Archive for December, 2007

FILOSOFIS SAYUR keASEMan

Tuesday, December 4th, 2007

Begitu banyak pelajaran di hidupku akhir-akhir ini yang rasanya tak sabar ingin kubagi. Sampe soal masakanpun aku merasa keindahan hikmah Alloh tercurah disana. Simpel aja sih benernya. Jangan tegang-tegang ya bacanya kayak bacaan diatas…hehe

Seperti kebiasaan dan hobiku..kalo hari Sabtu or Minggu aku berusaha masak sendiri di kost. Ya selain lebih hemat ya boleh donk hidup sehat, sama latihan dikit-dikit kalo ntar InsyaAlloh jadi ibu rumahtangga nggak kagok2 banget masak buat suami, anak and menghindari tatapan aneh ibu mertua hehehe. Amien. (Loh kok malah jadi kesini obrolannya..ngelantur nih..)

Nah walhasil dengan menyeret Esti, kuputuskan memasak sayur asem, ayam goreng, sambel terasi, and Es sirup sarang burung (yang ini buatan Indri). Dengan mengucap Bismillah dimulailah perjuangan itu…Pertama kumasak Sayur Asem dulu, sambil nunggu bumbu meresap di daging ayam. Setelah proses memasak hasil konsultasi via telpon tadi malam sama ibu, akhirnya mendidih juga si sayur asem. Saat mencicipi!!!!.

Hmmm…???? Ternyata kok agak ke-asem-an ya? Kuputuskan menambahkan garam…ternyata masih ke-asem-an juga. Kutambahin lagi masih juga ke-asem-an. Duuh, gimana ya. Naah, mendingan kutambahin gula aja deh. Hmmm???…ternyata masih ke-asem-an juga….AHA!!!. Mendingan kutambahin air aja kaan. (cerdas kamu wi’…hihihi, malah narsis sendiri). Nah akhirnya kutambahkan deh air seember eh secukupnya.

Hasilnya??? …Walaaa!!

Tetep aja masih ke-asem-an. Uuuuhhh MasyaAlloh…kenapa ya?? Aku jadi mulai ragu kalo lidahku bisa berfungsi sesuai kodratnya. Akhirnya kuminta deh anak kost nyicipin…Kata indri sih fine-fine aja, memang sih agak ke-asem-an, tapi it’s fine katanya, namanya juga sayur asem, kalo asin jadi sayur asin donk hehe.

Berikutnya, setelah intermezzo bentar goreng krupuk by Indri, aku goreng ayam yang udah diungkep bumbu selama hmmm…mbuh juga berapa lama :P. Setengah jam kemudian, ayam goreng garing kriuk-kriuk nan item (hehe) akhirnya jadi juga. Iseng kucuil dikit….Busyeeettttt!! ternyata keasinan boooo’!!. Huuuh biasanya aku kalo masak enak and pas, kenapa sih ini, huuuuh!!.

Ya udah daripada kecewa mending lanjut ke masakan berikutnya which is..sambel terasi. Dibantu dengan mb watil, jadi juga sambel terasinya. (Sambel adalah menu wajib dalam masakan). Setelah dicolek…wuaaaaaaaa, pedass banget booo’!!!!.

Weleh, dengan keadaan makanan yang serba nggak sempurna begitu (agak kecewa) kuajak temen2 kost makan siang bareng. Kan yang penting ngumpul begitu bukan???.

Hasilnyaa??? !!!. Subhanalloh, entah kenapa setelah kucampur nasi putih anget dengan sambel kepedesan, sayur ke-asem-an, and ayam goreng ke-asin-an, Ya Alloh rasanya…menurutku…SEMPURNA!!. Enaaaaak banget. Sampe2 tiap satu suapan kuucapkan Enak Kerina, Mantap Kerina (Kerina=banget/sangat menurut Bahasa Batak Karo), ato dzikir2 Subhanalloh, etc, saking enaknya (maaf ya yang nggak bisa ngerasain). Belum lagi ditambah krupuk and es sirup sarang burung-nya Indri, Ya Alloh Subhanalloh Alhamdulillah Allahu Akbar dah pokoknya.

…Mungkin itu hal yang biasa, tapi bagiku itu menyadarkanku akan sesuatu. Betapa selama ini kita memaksakan diri sendiri ato orang lain menjadi sesuatu yang lain, dan lupa bahwa masing-masing telah dikodratkan sesuai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kesempurnaan (dibawah kesempurnaan mutlak milik Alloh maksudnya) hanya bisa diraih melalui kebersamaan, sinergi, koordinasi antara masing-masing bagian, masing-masing pribadi sesuai kemampuan masing-masing. Mustahil sebuah gol yang indah lahir dari seorang striker, dia adalah hasil proses panjang yang mungkin berawal dari penjaga gawang sekalipun.

Setiap orang diciptakan unik, dengan kemampuan yang berbeda. Yang perlu dilakukan hanyalah menjadi maksimal dengan kemampuan masing-masing tersebut, dengan tentunya berharap hanya pada Sang Koordinator Utama yaitu Alloh SWT. Hikmah dari sayur ke-asem-an, boleh juga bukan?? Hihihi

(thanx to ulpha yang jadi my first ear about this philosophy)

PARA PELEMBUT HATI (PPH)

Monday, December 3rd, 2007

Diilhami sebuah sinetron yang menurutku masih ‘layak’ untuk dinikmati dan ditonton di bulan Ramadhan lalu, Para Pencari Tuhan (PPT), kutuliskan blog ini bagi Para Pelembut Hati (PPH) yang kujumpai Sabtu ini. Hati yang kumaksud disini tentu saja Hatiku sendiri, sebab aku tidak tahu sama sekali bagaimana hati-hati milik orang lain saat melihat makhluk-makhluk indah nan rawan itu. Ya…mereka adalah para penghuni panti asuhan Cipayung (sori lupa nama lengkapnya).

Bagaimana tidak melembutkan hati, mereka makhluk-mahkluk Alloh nan rupawan yang polos belum mengenal dosa, yang memancarkan keluguan, yang seharusnya hidup berlimpahkan cinta dan kasih sayang….ternyata harus hidup pertama membuka dunia menghadapi kejamnya manusia. Mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka ditolak oleh ayah ibu yang ‘menyebabkan’ mereka hadir ke dunia. Sungguh tragis….!!

Kenapa akhirnya kusebut Pelembut Hati, ..betapa tidak. Sekecil itu..selugu itu…Semalang itu… Sangat kontras dengan kondisi dan keadaan kita (paling tidak diriku). Aku lahir dalam keluarga yang lengkap ada ayah dan ibu, kondisi serba kecukupan baik keuangan, kasih sayang, dan iman. Rasanya aku menjadi manusia yang memalukan, jika masih mengeluh soal uang gaji yang kurang padahal di saat yang sama aku masih dapat makan; masih mengeluh soal kesendirian jika masih punya teman, sodara, dan ayah-bunda yang siap memberikan ketulusan cinta; masih mengeluh soal kost yang mahal dan tidak elegan, jika masih punya tempat berteduh dari hujan dan panas yang penuh kedamaian; dan masih protes akan kebodohan jika pendidikan baik formal apalagi yang formal sudah dicecoki gratis tanpa pamrih dari orangtua.

Melihat mereka membuatku jauuuuuuuuuuuuuh sangat beruntung, dan bangkit kembali.

Ada

kekuatan berlebih saat kita berada di antara kaum yang lemah. Masih kuingat panggilan itu saat pertama kali kubuka pintu, ada seorang anak yang memanggilku lirih namun sangat jelas ditelingaku …”Mama??”…Sontak aku menoleh ke sahabatku sambil menatap tak percaya…”Aku dipanggil Mama??!!”…rasa haru, bahagia dan sekaligus sedih menyeruak ke sanubariku. Kudekati sumber suara itu, dia salah satu penghuni panti, balita perempuan yang terlahir dengan kondisi kurang gizi, hingga di usianya yang lebih dari 2 tahun itu belum juga sanggup berdiri. MasyaAlloh!!

Tak kurang dari umur kita, langkah-langkah hasil pemberian makanan penuh gizi dan lezat dari orang tua, dilangkahkan ke tempat-tempat maksiat, digunakan untuk melarikan diri dari masalah. Memalukan !!….

Mengenal dan berdekatan dengan mereka lebih meremukkan hati lagi. Wajah-wajah manis itu, dengan berbagai kondisi, dan juga beragam ras dari penampakan fisik mereka ternyata menyimpan berbagai kisah sedih. Bukan bermaksud su’udzon, hanya ingin mengambil hikmah.

Ada

dari mereka yang ditemukan di pinggir jalan, digeletakkan begitu saja oleh orang tuanya (Astaghfirullah), ada yang diserahkan dengan kesadaran sang ibu, yang dimana sang ibu adalah seorang pelacur (menurut kesaksian pengasuh ayahnya adalah Pak “Bram” alias Brame-rame). Mengenaskan lagi menurut pengasuh panti, sang ibu langsung ‘praktek’ lagi begitu dia menyerahkan anaknya (ini manusia ato bukan siih!!), namun ada juga yang sebentar lagi akan diambil kembali orang tuanya, karena dulu sengaja dititipkan dengan alasan ekonomi (Alhamdulillah).

“Sungguh indah Alloh menjadikan apapun yang ada di atas buminya ini penuh keindahan, meskipun di balik duri, meski harus mendaki tebing yang tinggi. Semuanya penuh makna. Jadikan aku sebagai orang yang pandai memaknai semua pelajaran yang terhampar di bumiMu ya Alloh, dan jadikan aku sebagai orang yang pandai mensyukuri semua nikmat yang Kau berikan. Dan tidak segan membagi cinta yang begitu berlimpah Kau turunkan untukku…hambaMu yang hina ini”.

(Terimakasih untuk sahabatku tercinta, mbak sofi dan mbak rika atas ajakannya dalam fastabikhul khairaat, semoga Alloh melimpahkan ridhaNya selalu atas kalian berdua. Amien)