PARA PELEMBUT HATI (PPH)
Diilhami sebuah sinetron yang menurutku masih ‘layak’ untuk dinikmati dan ditonton di bulan Ramadhan lalu, Para Pencari Tuhan (PPT), kutuliskan blog ini bagi Para Pelembut Hati (PPH) yang kujumpai Sabtu ini. Hati yang kumaksud disini tentu saja Hatiku sendiri, sebab aku tidak tahu sama sekali bagaimana hati-hati milik orang lain saat melihat makhluk-makhluk indah nan rawan itu. Ya…mereka adalah para penghuni panti asuhan Cipayung (sori lupa nama lengkapnya).
Bagaimana tidak melembutkan hati, mereka makhluk-mahkluk Alloh nan rupawan yang polos belum mengenal dosa, yang memancarkan keluguan, yang seharusnya hidup berlimpahkan cinta dan kasih sayang….ternyata harus hidup pertama membuka dunia menghadapi kejamnya manusia. Mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka ditolak oleh ayah ibu yang ‘menyebabkan’ mereka hadir ke dunia. Sungguh tragis….!!
Kenapa akhirnya kusebut Pelembut Hati, ..betapa tidak. Sekecil itu..selugu itu…Semalang itu… Sangat kontras dengan kondisi dan keadaan kita (paling tidak diriku). Aku lahir dalam keluarga yang lengkap ada ayah dan ibu, kondisi serba kecukupan baik keuangan, kasih sayang, dan iman. Rasanya aku menjadi manusia yang memalukan, jika masih mengeluh soal uang gaji yang kurang padahal di saat yang sama aku masih dapat makan; masih mengeluh soal kesendirian jika masih punya teman, sodara, dan ayah-bunda yang siap memberikan ketulusan cinta; masih mengeluh soal kost yang mahal dan tidak elegan, jika masih punya tempat berteduh dari hujan dan panas yang penuh kedamaian; dan masih protes akan kebodohan jika pendidikan baik formal apalagi yang formal sudah dicecoki gratis tanpa pamrih dari orangtua.
Melihat mereka membuatku jauuuuuuuuuuuuuh sangat beruntung, dan bangkit kembali.
Ada kekuatan berlebih saat kita berada di antara kaum yang lemah. Masih kuingat panggilan itu saat pertama kali kubuka pintu, ada seorang anak yang memanggilku lirih namun sangat jelas ditelingaku …”Mama??”…Sontak aku menoleh ke sahabatku sambil menatap tak percaya…”Aku dipanggil Mama??!!”…rasa haru, bahagia dan sekaligus sedih menyeruak ke sanubariku. Kudekati sumber suara itu, dia salah satu penghuni panti, balita perempuan yang terlahir dengan kondisi kurang gizi, hingga di usianya yang lebih dari 2 tahun itu belum juga sanggup berdiri. MasyaAlloh!!
Tak kurang dari umur kita, langkah-langkah hasil pemberian makanan penuh gizi dan lezat dari orang tua, dilangkahkan ke tempat-tempat maksiat, digunakan untuk melarikan diri dari masalah. Memalukan !!….
Mengenal dan berdekatan dengan mereka lebih meremukkan hati lagi. Wajah-wajah manis itu, dengan berbagai kondisi, dan juga beragam ras dari penampakan fisik mereka ternyata menyimpan berbagai kisah sedih. Bukan bermaksud su’udzon, hanya ingin mengambil hikmah.
Ada dari mereka yang ditemukan di pinggir jalan, digeletakkan begitu saja oleh orang tuanya (Astaghfirullah), ada yang diserahkan dengan kesadaran sang ibu, yang dimana sang ibu adalah seorang pelacur (menurut kesaksian pengasuh ayahnya adalah Pak “Bram” alias Brame-rame). Mengenaskan lagi menurut pengasuh panti, sang ibu langsung ‘praktek’ lagi begitu dia menyerahkan anaknya (ini manusia ato bukan siih!!), namun ada juga yang sebentar lagi akan diambil kembali orang tuanya, karena dulu sengaja dititipkan dengan alasan ekonomi (Alhamdulillah).
“Sungguh indah Alloh menjadikan apapun yang ada di atas buminya ini penuh keindahan, meskipun di balik duri, meski harus mendaki tebing yang tinggi. Semuanya penuh makna. Jadikan aku sebagai orang yang pandai memaknai semua pelajaran yang terhampar di bumiMu ya Alloh, dan jadikan aku sebagai orang yang pandai mensyukuri semua nikmat yang Kau berikan. Dan tidak segan membagi cinta yang begitu berlimpah Kau turunkan untukku…hambaMu yang hina ini”.
(Terimakasih untuk sahabatku tercinta, mbak sofi dan mbak rika atas ajakannya dalam fastabikhul khairaat, semoga Alloh melimpahkan ridhaNya selalu atas kalian berdua. Amien)